Di atas atap Sumatera

Pagi itu merupakan pagi yang sangat luar biasa, dimana pagi tersebut merupakan pagi ketiga setelah perayaan idul fitri berakhir. Di pagi tersebut sekolah masih libur, kantor pemerintahan belum buka, nelayan masih tidur, penoreh getah pun masih asik menikmati liburannya. Pagi itu adalah pagi yang paling sempurna untuk bermalas–malasan. Namun di pagi itu aku memilih untuk tidak menikmati rasa malas, masih ada satu janji yang harus ditunaikan, masih ada satu keinginan yang harus segera dilaksanakan, dan masih ada satu petualangan yang sangat sayang untuk dilewatkan yakni mendaki puncak atap sumatra (Gunung Kerinci : 3805MDPL)

Pemandangan Gunung Kerinci dari desa Kersik Tuo

Aku pun bergegas menyiapkan seluruh peralatan pendakian, carrier, sepatu gunung, slayer favorit, dan lain – lain. Setelah peralatan siap, aku pun berpamitan kepada orang tua asuhku selama di penempatan, tidak lupa pamitan kepada beberapa anak muridku yang selalu bertanya dan mengikuti gerak gerik langkahku. Faiz muridku kelas 4 SD bertanya “bapak nak ndak kemane ?” “bapak mau naik gunung dulu, nanti bapak akan ceritakan semua perjalanan bapak ke kalian” jawabku. “tapi bapak pasti balik kan ?” “iyalah, insya allah seminggu lagi bapak akan kembali, bapak belum waktunya pulang ke Jakarta kok” jawabku. “iyalah, pak” jawab Faiz. Percakapan pun berakhir, dan langsung ku kebut sepeda motor TVS pemberian Indonesia Mengajar sebagai motor dinas di penempatan. Ku kebut dengan kecepatan 32,5 Km/jam sebab motor tersebut sudah tidak mampu lagi untuk bisa menembus kecepatan maksimumku 136,5 Km/jam dikarenakan jalanan desa yang terlampau parah.

Pak guru berpamitan ke murid tercinta

Setelah berkelahi dengan liarnya jalanan desa selama 3 jam lamanya, akhirnya bisa tiba dengan selamat di pelabuhan bengkalis untuk melanjutkan perjalanan menggunakan speed boat ke dumai. Motor TVS pun aku titip di hotel pantai marina, dimana hotel tersebut merupakan hotel termewah di ibukota kabupaten bengkalis, dan para pegawai hotel tersebut sudah sangat mengenal kami Pengajar Muda. Perjalanan pun dilanjutkan menggunakan speed boat dengan tujuan ke pelabuhan dumai, dimana waktu tempuh antara pelabuhan bengkalis ke dumai itu memakan waktu 2 jam lamanya. Setelah terombang–ambing di dalam speed boat tersebut akhirnya bisa tiba di pelabuhan dumai dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Di kota dumai aku sudah ditunggu oleh saudara saya sesama pengajar muda bengkalis Ryan Singgih dan Anang Setiawan.  Tujuan kami berbeda–beda, untuk mengisi liburan, aku dan Ryan alias Keceng memilih untuk mendaki ke gunung kerinci, sedangkan Anang memilih ke pekanbaru untuk mengembalikan kondisi fisiknya supaya bisa lebih ganteng lagi.

Semalam penuh kami menghabiskan waktu di sebuah hotel kota dumai. Selanjutnya kami berpisah keesokan harinya, aku dan keceng menuju padang, sedangkan anang menuju pekanbaru. Nah, kenapa kami mengambil rute ke padang ? perjalanan menuju kerinci sebenarnya bisa ditempuh melalui padang ataupun melalui jambi via pekanbaru. Kami memilih padang karena dari kota padang menuju gunung kerinci yang terletak di desa kersik tuo provinsi jambi itu lebih dekat jika dibandingkan dengan rute dari dumai – pekanbaru – jambi. Aku gak perlu membahas terlalu detail mengenai rute–rute terdekat, silahkan gunakan google maps untuk mengetahui rute tersebut.

Pemandangan sepanjang perjalanan menuju Kerinci

Perjalanan dumai – padang membutuhkan waktu sekitar 15 jam lamanya, normalnya sih 7 jam, namun karena travel (avansa) yang mengangkut kami itu mengalami pecah ban sebanyak 2 kali (apes cuk).  Kami berangkat dari dumai pada pukul 14.00 dan tiba di padang pada pukul 07.00 pagi. Tiba di kota Padang kami langsung mencari tempat makan yang paling banyak porsinya (kuantitas lebih baik dibanding kualitas) sebab perut yang dalam keadaan lapar sudah tidak bisa mengkompromikan antara rasa lezat dan enak, yang penting kenyang. Setelah kenyang, kami pun mulai kepikiran untuk mandi, namun mandi belum menjadi prioritas utama. Yang menjadi prioritas utama adalah mencari headlamp, beberapa batang coklat, mie instan, dan kebutuhan pendakian lainnya, karena kebutuhan dana yang tidak mencukupi, kami pun hanya membawa bekal seadanya saja. Setelah mencari kebutuhan–kebutuhan tersebut, prioritas selanjutnya adalah mandi, kenapa hal tersebut menjadi prioritas ? sebab kami akan bertemu dengan salah satu living legend officer indonesia mengajar Ade Chandra di kota kelahirannya kota Padang. Kami pun mencari tempat mandi yang gratis, aman, nyaman dan tenteram. Tempat itu adalah Pertamina alias Pom Bensin, yang kebetulan tidak jauh dari tempat kami membeli kebutuhan untuk mendaki. Semua daki, kotoran yang melekat ditubuh pada berguguran semua, sehingga kami pun siap untuk bertemu dengan living legend officer Indonesia mengajar. Di pom bensin itu juga kami bertemu dengan Ade Chandra yang kebetulan akan berangkat ke Bengkalis 3 hari kemudian, obrolan pun mengalir dengan sangat cepat, mulai dari yang serius, semi serius, non serius dan obrolan yang tidak terkategorikan. 3 jam lamanya kami bertemu, tiba saatnya kami untuk berpisah, sang living legend kembali ke rumahnya, dan kami pun sudah siap–siap menunggu travel (avansa) yang akan mengangkut kami ke desa Kersik Tuo kaki gunung Kerinci.

Bertemu Living Legend IM “Ade Chandra”

Perjalanan dari kota Padang ke desa Kersik Tuo (jambi) ditempuh dalam waktu 8 jam, kami berangkat dari kota Padang pada pukul 19.00 molor berangkat pukul 20.00 dan tiba di desa Kersik Tuo pada pukul 04.00, hawa dingin khas pegunungan langsung terasa ketika kami menginjakkan kaki di desa tersebut. Tidak ada kenalan, tidak ada tempat menginap sementara, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di masjid desa Kersik Tuo, belum ada tanda – tanda kehidupan dipagi yang masih gelap gulita ini, penduduk sekitar masih pada asyik dengan kasurnya masing – masing. 30 menit kemudian datanglah penjaga masjid yang segera membuyikan sound system masjid pertanda bahwa waktu subuh sebentar lagi menjelang. Sholat subuh pun dilaksanakan pada pukul 05.00, setelah selesai menunaikan sholat kami bercengkrama dengan masyarakat sekitar, mulai menanyakan tentang gunung Kerinci, tempat menginap sementara atau homestay, bahkan menanyakan tentang suku anak dalam yang ada di jambi.

Pos rimba Gunung Kerinci

Para penduduk kembali ke aktifitas mereka masing – masing, sedangkan kami segera meluncur ke salah satu homestay yang direkomendasikan oleh masyarakat desa Kersik Tuo, yaitu di tempat Heru dimana ditempat ini merupakan tempat favorit para pendaki sebelum melakukan pendakian di gunung Kerinci. Awalnya hari itu juga kami akan mendaki ke kerinci, namun saran dari Heru, mendingan menunggu Bang Levi untuk mengantar kami kesana, karena Bang Levi lebih tahu medan dan rute pendakian. Akhirnya kami pun berangkat keesokan harinya hanya karena menunggu Bang Levi, sebagai orang baru kami harus mematuhi petuah orang–orang lama disini. Sekedar catatan menurut beberapa artikel yang kami baca di internet, gunung Kerinci memiliki 3 pos pendakian dan 3 shelter. Rute pertama yaitu pos rimba ke pos 1 yang katanya memiliki jarak tempuh 1 jam lamanya untuk ukuran profesional, pos 1 ke pos 2 juga 1 jam, pos 2 ke pos 3 itu 2 jam. Dari pos 3 ke shelter 1 sekitar 2 jam, dari shelter 1 ke shelter 2 itu sekitar 3 jam, dari shelter 2 ke shelter 3 itu 3 – 5 jam. Nah dari shelter 3 ke puncak itu 1 jam (untuk profesional). Ingat itu hanya informasi dari internet, kejadian dilapangan tidak seperti itu.

Pos dan Shelter Gunung Kerinci

Bang Levi menyuruh kami berangkat duluan, mungkin karena menganggap kami bakal lebih lambat jalannya, kami pun berangkat dari pos rimba ke pos 1 yang ternyata hanya ditempuh 15 menit, pos 1 ke pos 2 juga 15 menit, pos 2 ke pos 3 sekitar 40 menit. Di pos 3 ini kami bertemu rombongan dari jambi, dan bercengkrama sebagai sesama pendaki. Bang Levi baru menemui kami ketika kami sudah berada di pos 2 (sungguh terlalu). Di pos 3 kami diguyur hujan lebat dan langsung diantisipasi dengan menggunakan jas hujan, perjalanan pun dilanjutkan ke shelter 1 kami menempuhnya sekitar 1 jam lamanya. Hujan yang masih mengguyur kami tidak menghambat perjalanan selanjutnya yakni ke shelter 2, kata Bang Levi untuk camp lebih enak di shelter 3. Namun kami memutuskan membangun tenda di antara shelter 1 dan shelter 2 alias shelter 1,5, sebab hujan tidak berhenti juga dan kebetulan ada tenda kosong yang belum dibongkar Bang Levi di antara shelter 1 dan shelter 2. Kami pun menginap di tenda tersebut, dibawah guyuran hujan, dingin, kabut, dan malam yang mulai menjelang kami mengisi perut, untuk persiapan pendakian selanjutnya. Disini letak kesalahan informasi yang diberikan oleh Bang Levi, katanya dari shelter 1,5 ini menuju puncak 6 jam baru sampai, kami pun mempersiapkan perjalanan pada pukul 02.00, sehingga bisa menuju puncak di pagi hari.

Batas vegetasi Gunung Kerinci

Namun apa kami yang terlalu cepat jalannya atau para pendaki sebelumnya yang lambat jalannya, membuat informasi yang kami dapat tidak berguna sama sekali. Karena harus berangkat pada pukul 02.00 kami membangunkan Bang Levi untuk siap – siap summit attack, namun sayang sekali yang dibangunkan sama sekali tidak mau bangun, dan seperti orang malas yang sedang menikmati libur panjang. Kami pun memutuskan untuk summit attack berdua, perjalanan dimulai pada pukul 02.00, dibawah guyuran hujan yang belum berhenti, berbagai mahluk halus yang mengintai di sela – sela pohon, dan licinnya track pendakian tidak menyurutkan langkah kami untuk menikmati puncak sumatra. Ternyata, kami sudah tiba di shelter 3 pada pukul 04.00, dan puncak sudah kelihatan di depan mata. Batas vegetasi hanya sampai pada shelter 3, kami memutuskan untuk tidak ke puncak dulu sebab sangat beresiko, hari masih gelap, kabut belerang tidak henti–hentinya beraktifitas, dan jarak pandang yang hanya samai 5 meter. Di hantam hujan dari pukul 02.00 – pagi, tanpa membawa peralatan apapun, beruntung kami diselamatkan sang saka merah putih yang di jadikan bivak dadakan. Persediaan air minum habis, hawa dingin menusuk sampai ke tulang karena pakaian pun sudah tidak mampu lagi memberikan kehangatan karena basah diguyur hujan. Tuhan memberikan kami air hujan gratis langsung siap minum untuk melepas dahaga.

Badai belerang, jarak pandang berkurang

Pagi mulai menjelang, pukul 5.30 kami langsung berangkat, dengan sedikit sisa tenaga kami melewati tugu yudha yakni tugu yang di buat oleh teman–teman pendaki untuk menghormati orang–orang yang telah meninggal di gunung kerinci. Melewati kabut, mencari jejak, dan melawan dingin harus kami lalui untuk bisa menikmati keindahan alam ciptaan yang maha kuasa. Pukul 06.00 kami akhirnya berhasil membuat jejak di puncak tertinggi Sumatra (Kerinci). Di puncak ternyata badai kabut belerang menanti dengan senyumannya, membuat jarang pandang berkurang, dan saya hampir tidak bisa bernafas karena mengirup badai belerang. Hal yang paling tidak pernah akan saya lupakan ketika Keceng alias Ryan Singgih menyobek slayernya untuk dibagikan ke aku karena sudah tidak bisa lagi menahan nafas akibat menghirup beleran terlalu banyak. Slayer penyelamat dengan seorang saudara yang sangat luar biasa, membuat perjalanan kami menjadi perjalanan yang tidak akan pernah terlupakan.

Puncak Kerinci
Puncak Kerinci

Di puncak kami sujud dan bersyukur telah diberi kesempatan menapaki gunung kerinci walaupun hanya 10 menit saja berada di puncak, sebab badai sudah tidak bersahabat lagi. Kami pun turun di tugu yudha dimana kami menuliskan keinginan kami melalui batu–batu yang di buat dalam bentuk pesan. Keceng manuliskan rasa sayangnya kepada pacarnya yaitu Risa dan akhirnya sekarang terkabulkan dengan ikatan perkawinan yang sah, sedangkan aku menuliskan pesan untuk seorang gebetan yang jauh di kota malang dan sampai sekarang tidak pernah menjadi kenyataan. Saat ini sudah berhasil dipertemukan untuk pasangan hidup selamanya (Colek Rizkiyani Istifada).

Tulisan ini saya dedikasikan Buat Keluarga Ryan Singgih Prabowo dan Istrinya Risa Rahmawati, serta seluruh keluarga besar Pengajar Muda III Kabupaten Bengkalis (Keceng, Anang, Veni, Dhini, Deni, Fitut, Moaw, Nadia, Willy) Saya bangga mempunyai saudara seperti kalian.

Be First to Comment

Leave a Reply