Mereka yang luar biasa

Pagi itu, saya terbangun dari tidur indah setelah sehari penuh mengajar di sekolah. Saya pun berusaha bangkit dari kasur yang sudah semakin tipis karena selalu di gerogoti oleh tikus–tikus di malam hari. Menuju ke sumur dan segera mencuci muka agar kelihatan lebih segar walaupun sebenarnya air sumur itu tidak lebih segar jika dibandingkan dengan wajahku yang baru bangun tidur. Dua cangkir kopi hitam dan 2 cangkir teh panas tanpa cemilan pagi hari telah disiapkan oleh ibu piaraku (Ka Emma) yang usianya lebih muda dariku.

Disebuah perumahan sekolah dasar yang sudah tidak layak huni tersebut tempat saya dan keluarga piara saya tinggal. Di mana di dalam keluarga baru tersebut semuanya di huni oleh anak–anak sulung alias anak pertama. Di desa ini saya tinggal dengan keluarga baru saya yang juga baru memulai menjalani kehidupan keluarga. Di dalam keluarga ini di huni oleh 5 orang anak pertama, yakni Parno Saputra “Bang Parno” (anak Pertama dari keluarganya), Asmawati “Ka Emma” (anak pertama juga dari keluarganya) , Aulia – Anak (anak Pertama dari pasangan Bang Parno dan Ka Emma), Kang Suyatmi “Kang Yat” (juga anak pertama dari keluarganya), dan saya sendiri ( anak pertama dari keluarga saya ). Kang yat merupakan sepupu dari Bang Parno yang sudah lama bersama dan mengabdi di desa ini.

Catatan : Mereka tidak mau dipanggil Ayah dan Ibu karena rentang usia yang tidak jauh berbeda, cukup dipanggil Bang Parno, Ka Emma.

Bersama Bang Parno, Ka Emma, dan si kecil Aulia (Foto 2012)

Desa sekodi itulah nama desa tempat saya mengabdi, dimana saya tinggal dalam keluarga yang bukan penduduk asli desa tersebut. Hanya Ka Emma saja yang merupakan penduduk asli desa Sekodi dimana ketika Bang Parno bertugas di desa tersebut, mereka pun bertemu dan akhirnya jatuh cinta lalu menikah. Desa ini merupakan sebuah desa pelosok yang sangat jauh tertinggal baik dari segi akses maupun ekonominya. Sekodi, begitu mendengar kata tersebut yang terlintas di pikiran saya adalah sesuatu yang berjumlah 20, jika selusin itu adalah 12 maka sekodi itu adalah 20. Sekodi merupakan sebuah desa di ujung pulau Bengkalis dimana saya sebagai seorang pengajar muda akan ditempatkan selama setahun untuk memberi inspirasi di desa tersebut, yang menurut cerita masyarakat sekitar awal terbentuknya desa tersebut karena beberapa orang sedang menggali parit di sebuah hutan pinggir laut dan menemukan 20 helai daun sehingga mereka menamakan daerah tersebut Sekodi. Bagaimanapun asal – muasal desa ini, hal yang paling penting adalah di desa inilah saya akan menempuh S2 kehidupan saya selama setahun penuh.

Sebelum menginjakan kaki di desa Sekodi, terlebih dahulu kami 10 pengajar muda yang ditempatkan di kabupaten bengkalis di istirahatkan di kota bengkalis sebelum menempuh perjalanan ke desa penempatan masing–masing. Hal pertama yang terlintas dipikiran saya saat menginjakkan kaki di kota Bengkalis adalah rasa takjub tentang kebersihan dan kemegahan bangunan – bangunan pemerintahan, namun ketika saya berangkat ke desa penempatan saya yaitu Sekodi yang berjarak sekitar 60 km dari kota bengkalis yang terbesit didalam pikiran saya adalah “wow” sangat kontras dengan apa yang saya liat diibukota kabupaten Bengkalis, dimana dikota bengkalis sendiri terlihat sebagai salah satu kota yang maju, bersih, dan bangunan–bangunan pemerintahannya yang luar biasa megah namun ketika saya berada dipinggiran bengkalis, hal kontras sangatlah terasa karena di pinggiran desa tersebut khususnya desa Sekodi sangatlah tertinggal dibalik gemerlapnya kota bengkalis, padahal kabupaten bengkalis merupakan salah satu kabupaten terkaya diindonesia, jangankan sinyal handphone jaringan listrik saja belum sempat dinikmati oleh masyarakat desa Sekodi, untuk listrik sendiri mereka menggunakan generator yang hanya bisa dinikmati pada jam 06.00 – 09.00 itupun dengan jumlah beban yang terbatas.

Bang Parno sedang mengajar mengaji

Untuk bisa mencapai desa Sekodi, jangan berharap akan disuguhi oleh jalanan yang rata, karena sepanjang perjalanan dari kota bengkalis menuju desa sekodi kami disuguhi oleh gelombang pasang surut jalanan yang berlubang, sempit, berdebu, dan genangan air yang menimbulkan kubangan yang sangat dalam, sehingga mobil yang membawa saya ke desa Sekodi sempat macet selama 1 jam karena merasakan ganasnya kubangan lumpur jalanan yang sangat dalam. Jika melihat kekayaan yang dimiliki oleh kabupaten bengkalis sangatlah tidak mungkin untuk melihat jalanan yang rusak, ataupun jaringan listrik yang belum masuk ke desa – desa, namun itulah yang terjadi ketika pusat kota dipenuhi oleh bangunan – bangunan yang megah dengan jalanan yang rata, maka dipelosok–pelosok pulau ini jangankan untuk mendapatkan aliran listrik, menikmati jalanan yang nyaman saja merupakan hal yang sangat mustahil, sehingga ada lelucon dari masyarakat sekitar bahwa bengkalis itu adalah daerah paling kaya karena dijalanan saja bisa tumbuh besi dan mata air pun bisa muncul, jika musim hujan jalanan menjadi danau, jika musim kemarau jalanan menjadi perkebunan besi.

Kopi yang selalu dihidangkan Ka Emma setiap pagi

Namun disini saya tidak akan banyak menceritakan tentang kondisi alam maupun tenteang keterpencilan daerah. Yang akan saya ceritakan disini adalah 2 sosok inspiratif saya yang selalu menjadi penyemangat hidup ketika saya merasa lelah, capek ataupun bosan selama dalam masa penugasan. 2 sosok inspiratif inilah yang selalu menyembuhkan semua masalah baik itu lelah secara fisik maupun lelah secara mental, tanpa mengesampingkan peran Ka Emma yang selalu sigap menyediakan kopi di pagi hari dan selalu berusaha agar dapur tetap mengepul.

PARNO SAPUTRA (Bang Parno)

Periode Awal

Desa ini bukanlah desa yang seperti biasanya, dimana untuk bisa sampai ke desa ini kita harus naik Pompong (Perahu kayu) dari pusat kota bengkalis ke desa Sekodi, belum ada akses darat untuk melalui desa tersebut. Desa ini mengenal gotong royong tidak seperti desa–desa yang lain, di desa ini gotong royong dilakukan dengan arahan kepala suku dan pelaksanaannya dilakukan dengan kuota, misal keluarga A mengirimkan 4 perwakilannya dan mendapat jatah gotong royong sepanjang 8 meter. kegiatan gotong royong di desa ini menggunakan sistem kuota, tergantung dari arahan kepala suku. Di desa ini, angka kehamilan di luar nikah sangat tinggi, karena lokasinya yang terisolir, sehingga hiburan bagi anak–anak muda di desa ini selalu diwarnai dengan kejadian hamil diluar nikah. Di desa ini selalu diadakan upacara “belah kampung” yang di adakan setahun sekali, dilaksanakan oleh kepala suku dengan tujuan untuk melindungi kampung dari roh–roh jahat yang akan mengganggu kehidupan penduduk kampung, didalam upacara ini memiliki 3 pantangan utama yakni tidak boleh memetik daun, tidak boleh bekerja pada hari itu, dan tidak boleh keluar ataupun masuk ke kampung tersebut pada saat upacara “belah kampung” berlangsung. Upacara ini dilaksanakan sehari semalam dengan 3 pantangan yang tidak boleh di langgar oleh penduduk kampung. Jika salah satu pantangan tersebut dilanggar maka akan terjadi musibah bagi kampung tersebut. Di desa ini suara kumandang adzan hanya terdengar seminggu sekali, dan masih banyak penduduknya yang belum tahu membaca Al – Quran. Kondisi diatas merupakan gambaran sebelum Bang Parno datang ke desa Sekodi.

Bang Parno sedang mengajar ngaji

Periode Pertengahan

Bang parno menginjakkan kaki di desa Sekodi pada akhir tahun 2001, dimana sebelumnya Bang Parno menempuh pendidikan Madrasah Aliyah di salah satu pesantren di kota Kediri, Jawa Timur. Setelah selesai menamatkan pendidikannya, beliau kembali ke kampung halamannya di desa bantan air, kab. Bengkalis – Riau. Melihat perkembangan agama di desa bantan air sudah sangat baik, beliau akhirnya memutuskan untuk meninggalkan desa kelahirannya menuju desa Sekodi yang pada saat itu di kenal sebagai desa terpencil dan terpelosok, walaupun jarak desa tersebut hanya 120 km, namun waktu yang dibutuhkan untuk mencapai desa sekodi itu sekitar 8 jam perjalanan.

Penghujung tahun 2001, Bang Parno pun menginjakkan kaki di desa Sekodi, setelah menempuh perjalanan 8 jam lamanya. Di desa tersebut, beliau akhirnya bisa tinggal dirumah Pak Ismail, salah satu warga yang memang sangat menginginkan Bang Parno mengabdi di desa mereka. Awal kedatangan bang parno pun di mulai dengan sedikit cibiran dari masyarakat setempat, karena seorang pemuda kecil yang masih berusia 21 tahun itu bisa apa untuk kampung ini, begitu tanggapan masyarakat yang melihat Bang Parno dan kebetulan memiliki postur tubuh yang kecil. Namun hal itu tidak pernah menyurutkan niat Bang Parno untuk tetap memberikan manfaat kepada masyarakat desa Sekodi.

Saya bersama Bang Parno dan anak-anak ngaji

Untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, Bang Parno pun mulai melakukan aksinya, seperti mengkumandangkan kembali suara adzan masjid 5 kali sehari semalam. Membuka pengajian bagi semua masyarakat yang kebanyakan masih belum bisa membaca Al Quran, dan mengajari anak – anak tentang ilmu Figh Islam. Dari kegiatan yang dibuatnya tersebut akhirnya pada tahun 2002 Bang Parno diterima mengajar di SDN 38 Sekodi, sebagai guru honorer dan membuat sekolah Madrasah Ibtidayah yang dilaksanakan pada sore hari. Dari semua kegiatan yang dilaksanakan tersebut, perlahan Bang Parno sudah mendapat perhatian yang lebih dari masyarakat, dan setiap kegiatan yang ada sangkut pautnya dengan kegiatan agama, pasti Bang Parno yang selalu diberi kepercayaan untuk mengisi kegiatan agama tersebut.

Bang Parno sedang mengajar ilmu Fiqh

Selama hampir 2 tahun lamanya, Bang Parno bergelut dengan kegiatan agama dengan tujuan untuk memberikan pemahaman agama terhadap masyarakat desa Sekodi. Dari semua yang beliau lakukan, seperti mengajar sekolah dasar di pagi hingga siang hari, mengadakan pengajian di malam hari, mengajar di sekolah Madrasah Ibtidayah di sore hari, beliau hanya mendapat gaji Rp.150.000/bulan dari mengajar disekolah dasar di SDN 38 sekodi. Namun hal itu tidak pernah menjadi kendala berarti bagi Bang Parno, sebab beliau mempunyai misi agar anak – anak desa Sekodi bisa menjadi suri tauladan dan pemimpin masa depan minimal bagi keluarganya sendiri.

Bang Parno sedang mengajar di sekolah dasar

Pada tahun 2004, Bang Parno harus meninggalkan desa Sekodi karena mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah PGSD di Universitas Riau (UNRI) pekanbaru, selama 3 tahun menempuh pendidikan disana, tepat tahun 2007 beliau kembali lagi ke desa sekodi untuk melanjutkan perjuangannya yang telah dirintis dari tahun 2002. Selama meninggalkan desa Sekodi, beliau sudah mewariskan ilmu kepada beberapa muridnya untuk melanjutkan kegiatan – kegiatan di desa Sekodi, seperti pengajian dititipkan kepada sepupunya yaitu Kang Yat (akan diceritakan tersendiri) sekolah Madrasah Ibtidayah dititipkan salah seorang muridnya yang sudah bisa dipercaya untuk memegang sekolah tersebut.

Bang Parno juga melatih kegiatan pramuka

Periode sekarang

Kembali dari masa pendidikan di tahun 2007, beliau tetap mengajar dan mengajar, berbagai kegiatan keagaman, kegiatan sosial, kegiatan memberdayakan masyarakat telah dijalani, begitu cintanya beliau pada dunia pendidikan, dan rasa cintanya pada desa Sekodi,  akhirnya pada tahun 2009 Bang Parno mempersunting gadis desa sekodi yang juga seorang guru honorer di SDN 38 Sekodi yaitu Asmawati, yang biasa dipanggil Emma. Bahtera rumah tangga pun di jalani oleh kedua pasangan ini. Setelah menikah, ternyata Bang Parno membuat sebuah gebrakan baru di desa Sekodi. Melihat banyak anak – anak SD yang baru masuk, semestinya belum bisa untuk masuk sekolah dasar, akhirnya beliau membuat sebuah kelompok bermain yang diberi nama Kelompok Bermain Permata Kasih, atau saat ini lebih di kenal sebagai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Kelompok bermain (PAUD) yang didirikan oleh Bang Parno

Semua beliau lakukan atas inisiatif sendiri dan tanpa modal dari siapapun, beliau berprinsip, jika memang niat untuk membangun pasti jalannya akan ditunjukan oleh Allah SWT. Kelompok bermain pun terbentuk dengan sedikit dana dan bantuan masyarakat, yang pada saat itu belum memahami konsep kelompok bermain. Namun itulah Bang Parno, beliau ingin semua anak bisa merasakan dan menikmati masa kanak – kanak yang indah, karena selama ini di masyarakat desa Sekodi selalu mendidik anak dengan cara yang keras dan kasar.

Kegiatan belajar mengajar

Pagi hari Bang Parno di sibukkan dengan mengajar di SDN 38 Sekodi, sore hari mengajar dan bermain di PAUD permata kasih, dan malam hari mengajar membaca Al–Quran dan menanamkan ilmu Figh sejak dini. Selama setahun saya bersama beliau, tidak pernah muncul rasa lelah maupun sifat keluh kesah dalam menjalani semua aktifitas tersebut. Dengan gaji yang diterima hanya berasal dari tunjangan guru honorer SDN 38 sekodi, beliau tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Sebuah kata yang selalu saya ingat dari beliau adalah semua yang kita lakukan selama ini adalah IBADAH, jika kita melakukan sesuatu hanya karena uang maka yakinlah apa yang kita lakukan tidak akan banyak membawa manfaat bagi manusia.

KANG SUYATMI (KANG YAT)

Beliau tidak seperti manusia lain pada umumnya, dialah mentor sekaligus guru spiritual saya ketika berada di penempatan. Kang Yat, begitu orang – orang memanggilnya, sejak kecil beliau menderita penyakit Polio sehingga tidak bisa berjalan hingga sekarang usianya sudah memasuki 42 tahun. Walaupun di beri kekurangan fisik oleh Allah SWT, beliau tidak pernah berkeluh kesah, apalagi menghujat. Sebaliknya yang beliau lakukan malah melebihi manusia – manusia normal lainnya. Kang Yat merupakan saudara sepupu dari Bang Parno yang juga mendedikasikan hidupnya untuk mengajar dan mengajar.

Bersama Kang Yat terdampar di Kepulauan Meranti

Sebelum Bang Parno pergi melanjtukan sekolah ke Pekanbaru, kang yat sudah berada di desa Sekodi untuk menggantikan peran bang parno dalam mengajari masyarakat desa sekodi tentang pengetahuan Agama. Kang Yat datang ke desa Sekodi pada pertengahan tahun 2004, saat itu untuk menuju desa Sekodi masih harus melewati laut karena belum ada akses jalur darat untuk menuju desa tersebut. Melalui jalur laut, dan tiba disebuah desa yang harus dilalui bagi seorang yang tidak bisa berjalan merupakan suatu perjuangan demi untuk memajukan pengetahuan anak–anak negeri. Namun disitulah keteguhan hati serang pejuang negeri dalam menjalani hidup.

Kang Yat sedang mengajar nagham

Setelah Bang Parno meninggalkan desa Sekodi, tongkat estafet  perjuangan pun dilanjutkan oleh Kang Yat, beliau fokus pada sekolah Madrasah dan pengajian di malam hari, sebab untuk mengajar di SDN Negeri 38 sekodi, beliau belum memenuhi kriteria hanya karena dia adalah lulusan Madrasah Tsanawiyah. Walaupun cacat, Kang Yat merupakan alumni pondok pesantren Banyuwangi, dengan kekurangan fisik yang beliau miliki, namun semangat untuk menempuh pendidikan jauh dari kota kelahiran tetap di jalani. Setelah menamatkan pendidikannya sampai Madrasah Tsanawiyah, beliau mengajar agama terutama mengajar Membaca Al – Quran selama beberapa tahun di desa kelahirannya yaitu di desa Bantan Air. Namun melihat tantangan di desa Sekodi yang lebih kompleks, akhirnya beliau memutuskan untuk mengabdi di desa Sekodi.

Di desa Sekodi, kang yat mencurahkan segala ilmunya dengan berbagai macam perubahan yang sebelumnya belum pernah terjadi di desa tersebut, seperti merubah tata cara sholat, cara memandikan mayat, cara mensholatkan mayat, membuat majelis yasin, mendidik pemuda–pemudi untuk lebih beragama, hingga berbagai ritual–ritual tradisional yang berbentuk syirik pun akhirnya berhasil beliau ubah. Dengan berbagai pendekatan yang lebih masuk akal, Kang Yat berhasil merubah mindset masyarakat untuk lebih menanamkan sifat keagamaan dalam kehidupan sehari–hari.

Kang Yat mengajar di sekolah sore

Walaupun tidak mengajar di Sekolah dasar, namun apa yang beliau lakukan sudah sangat banyak membawa manfaat. Terlebih lagi, beberapa hasil didikan beliau sudah banyak mewakili desa sekodi untuk mengikuti pelbagai perlombaan – perlombaan keagamaan seperti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), ceramah agama, dan lain–lain. Satu kalimat yang selalu tidak akan pernah saya lupakan dari Bang Parno maupun kang yat, “kita lakukan semua ini atas nama IBADAH, jika yang kita lakukan atas nama uang maka hasilnya tidak akan pernah membawa manfaat bagi masyarakat”

Begitulah 2 kisah, yang selalu menjadi inspirator saya dalam menjalani hidup. Mereka melakukan sesuatu atas nama IBADAH. Jika kita melakukan sesuatu atas nama uang, maka hasilnya tidak akan pernah membawa manfaat.

Be First to Comment

Leave a Reply