Dua sisi

Sore itu tepat pukul 16.00 WIB nada pesan instan aplikasi Whatsapp saya berdering, pertanda ada pesan baru yang masuk.

“Bro lagi dimana? Ketemu yuk, aku kebetulan lagi di Jakarta” begitu isi pesan singkat dari kawan lama yang sudah lama tidak bersua.

Kami bertemu di salah satu sudut kota Jakarta, membicarakan berbagai hal dan perkembangan terbaru dari diri kami masing-masing. Ia memiliki karir yang sangat baik, diusia yang masih sangat muda posisi Manager disebuah perusahaan sudah diembannya sejak 3 tahun yang lalu.

Bulan lalu saya juga sempat bertemu dengan seorang kawan lama, dia sudah lama bekerja dan bergerak di grassroot. Selama ini dia tidak pernah terdengar kabarnya, dia memilih mengambil resiko untuk mengambil jalan karir yang tidak sama dengan kawan-kawan lainnya.  Biasanya, seseorang yang lulus dari disiplin ilmu teknik, maka jenjang karirnya tidak akan jauh dari Private Sector. Dia sendiri memilih jalan yang berbeda, jalan yang memungkinkan dia banyak berinteraksi dengan kawan-kawan di level grassroot.

Dari dua pertemuan tersebut saya menganalisa bahwa sangat terasa jurang pola fikir antara kawan saya yang bekerja di level atas dan yang bekerja di level grassroot.

Saya melihat kawan saya yang bekerja sebagai Manager (level atas), cenderung memiliki pola pikir untuk selalu menjadi yang terbaik. Dia hanya akan membantu mereka yang terbaik saja sebab dari situ dia bisa mencetak orang-orang terbaik dimana kualitas menjadi utama dan nomor satu selalu menjadi tujuan. Dia menyadari terdapat konsekuensi dari hal tersebut, seperti dalam bekerja setiap ide maupun strategi yang dia kerjakan haruslah menghasilkan sesuatu yang terbaik. Setiap pekerjaan yang dia lakukan cenderung mengutamakan level atas dari strata organisasi, sehingga memungkinkan dia untuk memperloleh penghargaan lebih dari pekerjaannya tersebut dan akan memperoleh sorotan media (maupun sosial media), pujian pimpinan, dan lain-lain.

Kawan saya yang bekerja dan bergerak di level grassroot memiliki pola pikir yang berbeda 1800 dengan kawan yang bekerja di level atas. Dia cenderung senang membantu mereka yang paling lemah sehingga sebanyak mungkin mereka bisa berdaya, kehidupannya tidak glamor bahkan cenderung bekerja dan berjuang dari level paling bawah dan menjadikan kuantitas menjadi lebih utama bukan kualitas. Tidak ada istilah harus menjadi nomor satu, maju bersama selalu menjadi tujuan. Konsekuensi dari jalan hidup yang dia pilih sangatlah berat, sebagai lulusan terbaik di sebuah universitas ternama sangatlah memungkinkan dia berkarir di multinational company ataupun di sektor pemerintahan. Jalan yang dia pilih cenderung mengutamakan mereka yang berada pada strata paling bawah piramida kehidupan (Bottom of the Pyramid) sehingga materi bukanlah sesuatu yang penting dalam hidupnya karena memang jalan yang dia pilih bukanlah jalan yang bermateri banyak. Pekerjaan yang dia lakukan jarang menjadi sorotan media (apalagi sosial media), maupun pujian, setiap ide ataupun strategi yang dia kerjakan lebih kepada agar bisa terjangkau oleh orang banyak, sehingga mampu memajukan dan memberdayakan orang sebanyak mungkin.

Dari perspektif jalan karir yang dilalui oleh dua kawan ini, saya dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa berkarir di level atas akan sangat baik jika kita dapat membangun jejaring yang berkualitas sehingga bisa menggerakkan pimpinan di Indonesia. Ketika semua pimpinan di Indonesia baik dari sektor pemerintah, sektor swasta dan lainnya sudah bergerak maka seluruh rakyat Indonesia akan sangat mudah untuk didorong keatas. Sementara berkarir di level grassroot jika kita mampu memberdayakan masyarakat paling bawah agar bisa merangkak keatas maka seluruh lapisan masyarakat akan bergerak naik ke atas hasilnya seluruh rakyat Indonesia juga akan sangat mudah untuk didorong keatas.

Jalan karir level atas kemungkinan akan jauh lebih cepat perkembangannya karena hanya perlu mengandalkan orang-orang yang berada di level pimpinan tertinggi, sementara level grassroot akan sangat jauh lebih lama karena mengandalkan keberhasilan pemberdayaan masyarakat dalam jumlah yang banyak. Kedua jalan ini memiliki konsekuensi masing-masing, tinggal bagaimana kita mau memilih jalan mana yang harus kita pilih.

Be First to Comment

Leave a Reply